PENDEKAR SENTIMEN MEMBENTUK ISU SESAT YANG DI ARAHKAN KEPADA Kang Mas Dr. MARYANO KETUA LHA SH TERATE Pusat Madiun
Korlap | Madiun – Gelombang pemberitaan negatif yang diarahkan kepada Kang Mas Dr. Maryano, Ketua Lembaga Hukum dan Advokasi Persaudaraan Setia Hati Terate, bukan sekadar keliru, melainkan menunjukkan kemunduran cara berpikir sebagian pihak dalam menyikapi dinamika organisasi.
Apa yang beredar saat ini tidak lebih dari rangkaian tuduhan yang miskin dasar, tanpa argumen hukum yang jelas, dan cenderung menjurus pada serangan personal. Dalam tradisi organisasi yang berakar kuat seperti PSHT, dinamika perbedaan seharusnya diselesaikan melalui argumentasi, bukan agitasi.
Perlu ditegaskan, Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Namun ketika seseorang tidak lagi mampu menyusun argumen yang rasional, maka yang muncul adalah sentimen. Dan ketika sentimen yang dikedepankan, maka serangan akan bergeser dari substansi ke pribadi.
Ini bukan sekadar perdebatan, ini adalah indikator kualitas berpikir. Pihak-pihak yang memilih jalur fitnah dan serangan personal justru sedang menunjukkan kelemahan posisinya sendiri. Sebab jika memiliki dasar yang kuat, tentu yang disampaikan adalah data, fakta, dan analisis hukum, bukan opini liar yang menyerang individu.
H. ETAR, Kang Mas Dr. Maryano berada pada posisi yang jelas: bekerja dalam koridor hukum, membawa argumentasi, dan mempertanggungjawabkan setiap langkah secara terbuka. Maka jika ada pihak yang ingin mengkritik, silakan, namun lakukan dengan cara yang setara: adu argumen, bukan adu semtimen.
H. Nasihin mengatakan, jika ada pihak yang merasa benar, buktikan dengan argumen bukan dengan sentimen.
Jika merasa memiliki dasar hukum, buka dan uji di ruang publik. Namun jika yang terus diproduksi hanyalah serangan personal, publik berhak menilai: ini bukan perjuangan, ini KEPANIKAN yang dibungkus opini.
Pada akhirnya, dalam dinamika besar Persaudaraan Setia Hati Terate, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling gaduh—melainkan siapa yang paling mampu mempertanggungjawabkan kebenaran secara rasional dan bermartabat.
Reporter : Korlap
